Umum
Beranda » Berita » Desa Pernek Jadi Lokasi Uji Coba Modul Pengasuhan Berbasis Kearifan Lokal untuk Cegah Kekerasan Anak

Desa Pernek Jadi Lokasi Uji Coba Modul Pengasuhan Berbasis Kearifan Lokal untuk Cegah Kekerasan Anak

Sumbawa Besar, Zonasumbawa.com

Upaya mencegah kekerasan terhadap anak melalui pendekatan pengasuhan berbasis gender dan kearifan lokal mulai diuji coba di Kabupaten Sumbawa. Desa Pernek, Kecamatan Moyo Hulu, menjadi lokasi pelaksanaan Sosialisasi dan Uji Coba Modul Pengasuhan Berbasis Gender dan Kearifan Lokal yang digagas Tim Peneliti MoRA The AIR Funds Kementerian Agama RI–LPDP UIN Mataram bekerja sama dengan Pemerintah Desa Pernek.

Kegiatan yang berlangsung di Kantor Desa Pernek, Sabtu (8/8/2026), tersebut merupakan bagian dari rangkaian penelitian yang berfokus pada upaya pencegahan kekerasan terhadap anak melalui penguatan pola pengasuhan yang responsif terhadap gender, pemenuhan hak anak, serta pemanfaatan nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Sasak, Samawa (Sumbawa), dan Mbojo-Dompu di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Sebanyak 20 peserta dari berbagai unsur masyarakat mengikuti kegiatan tersebut. Mereka terdiri atas guru, ibu rumah tangga, penghulu, tokoh adat, serta aparatur desa. Sesi diskusi dan simulasi dipandu Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sumbawa, Fathilatulrahmah, S.Pd., bersama Sofia Mutmainnah, S.Mn., aparatur Pemerintah Kabupaten Sumbawa yang memiliki perhatian terhadap isu perempuan dan anak.

14 Pejabat Kemenag Sumbawa Emban Amanah Baru

Kegiatan dibuka oleh Kepala Desa Pernek, Abdul Majid, A.Md. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada Tim Peneliti UIN Mataram yang telah memilih Desa Pernek sebagai salah satu lokasi uji coba modul.

Menurutnya, keberadaan modul tersebut penting untuk memperkuat pemahaman masyarakat mengenai pola pengasuhan yang aman dan ramah anak, terlebih persoalan kekerasan terhadap anak dapat terjadi di berbagai lingkungan.

“Harapannya modul ini dapat diterapkan di rumah masing-masing dan lingkungan sekitar, mengingat maraknya kasus kekerasan yang terjadi—tidak hanya di lingkup rumah tangga, tetapi juga di tengah masyarakat dan lembaga pendidikan,” ungkap Abdul Majid.

“Bagian dari Rangkaian Riset Multi-Tahun”

Baznas, LPTQ, Kemenag dan Pemda Sumbawa Sepakat Gelar Pelatihan Bersama Qori’ Internasional

Mewakili ketua tim peneliti, Dr. Syukri, M.Ag., menjelaskan bahwa sosialisasi dan uji coba modul tersebut merupakan tahapan penting dalam rangkaian penelitian yang telah dilaksanakan secara bertahap.

Ia menerangkan, pada tahun pertama penelitian difokuskan pada pengumpulan data lapangan sekaligus penyusunan draf modul. Memasuki tahun kedua, penelitian diarahkan pada tahap sosialisasi dan uji coba modul secara langsung kepada masyarakat di sejumlah wilayah NTB.

“Kegiatan ini merupakan lanjutan dari penelitian kami sebelumnya. Pada tahun pertama, kami fokus pada pengumpulan data lapangan dan penyusunan draf modul. Sementara di tahun kedua ini, kami melangkah ke tahap sosialisasi dan uji coba langsung ke komunitas masyarakat di NTB, yang diawali di Kota Mataram dan saat ini di Kabupaten Sumbawa, bertempat di Desa Pernek,” terang Syukri.

“Membedah Pola Asuh dan Kearifan Lokal”

Tradisi Maulid Dusun Kaduk Tetap Terjaga, Ketua Umum Pajatu Adat LATS Berikan Apresiasi

Forum yang berlangsung sehari penuh tersebut dimoderatori salah seorang anggota tim peneliti, Siti Aminah, M.A. Peserta diajak membedah berbagai persoalan yang berkaitan dengan kehidupan anak, pola pengasuhan, serta dampak pengasuhan yang tidak tepat terhadap tumbuh kembang anak.

Dalam sesi tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman secara teoritis, tetapi juga diajak berdiskusi dan melakukan simulasi berdasarkan pengalaman serta kondisi yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.

Sejumlah materi utama yang dibahas meliputi pemahaman mengenai gender dan hak anak, klasifikasi pola pengasuhan, serta pengintegrasian kearifan lokal dalam pengasuhan.

Pada materi gender dan hak anak, peserta diajak memahami perbedaan antara seks biologis dan gender, mengenali stereotip gender, serta memahami konsep pengasuhan transformatif gender dan pemenuhan hak-hak anak.

Peserta juga diberikan pemahaman mengenai bentuk-bentuk pengasuhan yang dapat dikategorikan sebagai kekerasan maupun pola pengasuhan yang mengedepankan pendekatan nirkekerasan.

Sementara itu, aspek kearifan lokal menjadi salah satu bagian penting dalam uji coba modul. Peserta diajak menggali kembali nilai-nilai lokal masyarakat Sumbawa yang dapat mendukung terciptanya pola pengasuhan positif, sekaligus mengidentifikasi nilai atau praktik yang berpotensi menimbulkan bias gender maupun risiko kekerasan terhadap anak.

Melalui pendekatan tersebut, kearifan lokal diharapkan tidak hanya menjadi identitas budaya, tetapi juga dapat menjadi modal sosial dalam membangun lingkungan pengasuhan yang aman, setara, dan ramah anak.

“Peserta Nilai Materi Aplikatif”

Pelaksanaan sosialisasi dan uji coba modul mendapat respons positif dari peserta. Sudirman, salah seorang peserta, menilai materi yang disampaikan cukup informatif dan memiliki relevansi langsung dengan kehidupan masyarakat.

“Materi yang disampaikan sangat informatif dan aplikatif. Banyak hal yang terlupakan, tetapi dengan diskusi interaktif seperti hari ini membuka kembali memori kami dan menambah wawasan baru bagi kami, terutama terkait kearifan lokal dan langkah konkret yang harus dilakukan setelah pelatihan ini selesai,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Sapiani. Ia mengaku mendapatkan pengetahuan baru yang dapat langsung diterapkan dalam lingkungan keluarga dan masyarakat.

“Materi yang disampaikan sangat bagus. Bahkan nanti akan langsung saya terapkan kepada anak saya dan akan disampaikan juga kepada tetangga-tetangga saya, terutama terkait dengan pengasuhan bersama. Saya berharap modul ini dapat diterapkan oleh lebih banyak orang tua,” tuturnya.

“Diukur melalui Pre-Test dan Post-Test”

Tim peneliti tidak hanya menitikberatkan kegiatan pada penyampaian materi, tetapi juga melakukan pengukuran terhadap efektivitas uji coba modul.

Pengukuran dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk melihat perubahan pemahaman peserta sebelum dan sesudah mengikuti kegiatan. Evaluasi tersebut menjadi salah satu instrumen bagi tim peneliti dalam menilai sejauh mana materi yang disampaikan dapat dipahami dan diterima oleh peserta.

Selain evaluasi langsung, tim juga menyiapkan pemantauan dampak jangka panjang (long-term impact). Survei evaluasi susulan dijadwalkan dilakukan sekitar dua bulan setelah kegiatan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan dan prinsip pengasuhan nirkekerasan yang diperoleh peserta benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui tahapan sosialisasi, uji coba, evaluasi, dan pemantauan tersebut, Tim Peneliti MoRA The AIR Funds Kementerian Agama RI–LPDP UIN Mataram berharap modul pengasuhan berbasis gender dan kearifan lokal dapat terus disempurnakan berdasarkan pengalaman masyarakat di lapangan.

Lebih jauh, hasil uji coba di Desa Pernek diharapkan dapat memberikan masukan penting dalam pengembangan model pengasuhan yang tidak hanya mendorong pemenuhan hak anak, tetapi juga memperkuat peran keluarga, masyarakat, dan lembaga pendidikan dalam menciptakan lingkungan yang aman dari kekerasan.

Dengan demikian, kearifan lokal tidak berhenti sebagai warisan budaya, tetapi dapat dihidupkan sebagai kekuatan masyarakat dalam membangun pola pengasuhan yang lebih positif, setara, dan berorientasi pada kepentingan terbaik bagi anak.(ZS)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement