Sumbawa Besar, Zonasumbawa.com
Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei 2026 di SDN 2 Karang Jati, Desa Serading, Kecamatan Moyo Hilir, berlangsung khidmat dan penuh makna. Mengusung tema “Bersama Ayah Ibu Kami Terlindungi”, pihak sekolah menghadirkan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kabupaten Sumbawa sebagai Pembina Upacara untuk memberikan edukasi penting terkait pencegahan perundungan (bullying) kepada siswa dan orang tua yang turut diundang dalam kegiatan tersebut.

Dalam amanatnya, Perwakilan LPA Sumbawa, Fathilatulrahma, SPd, menyampaikan bahwa bullying merupakan perilaku agresif yang dilakukan secara berulang, baik secara fisik, verbal, maupun psikologis, yang dapat menyakiti atau merendahkan orang lain. Perilaku ini, tegasnya, bukan hal sepele karena berdampak serius terhadap tumbuh kembang anak.
“Bullying memiliki berbagai jenis, mulai dari bullying fisik seperti memukul atau mendorong, verbal seperti mengejek dan menghina, sosial seperti mengucilkan, hingga cyberbullying melalui media sosial,” jelasnya di hadapan peserta upacara.

Lebih lanjut, disampaikan Atul–demikian Ia akrab disapa, memaparkan sejumlah kiat untuk menghindari dan mencegah bullying, di antaranya dengan membangun rasa percaya diri pada anak, berani mengatakan “tidak” terhadap perlakuan yang tidak baik, serta segera melaporkan kepada guru atau orang dewasa yang dipercaya. Edukasi ini juga diperkuat dengan praktik sederhana yang melibatkan siswa, agar mereka dapat memahami dan membedakan berbagai bentuk bullying dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, disampaikan pula dampak dari bullying yang dapat dirasakan korban, seperti menurunnya kepercayaan diri, gangguan psikologis, hingga menurunnya prestasi belajar. Oleh karena itu, peran semua pihak, baik sekolah maupun keluarga, sangat diperlukan dalam menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak.

Pada kesempatan tersebut, Atul juga memberikan penekanan khusus kepada para orang tua terkait pentingnya peran keluarga dalam melindungi anak dari bullying.
“Anak adalah amanah yang harus dijaga, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional dan mental. Kasus bullying bukan hal sepele—dampaknya bisa membekas seumur hidup,” jelasnya
Orang tua diharapkan mampu membangun komunikasi yang terbuka dengan anak, sehingga anak merasa aman untuk bercerita tanpa takut dihakimi. Selain itu, orang tua juga diminta lebih peka terhadap perubahan perilaku anak, seperti menjadi murung, takut ke sekolah, atau menarik diri dari lingkungan sosial.

Tak kalah penting lanjut Atul, orang tua perlu menanamkan rasa percaya diri dan keberanian kepada anak, mengajarkan empati sejak dini agar tidak menjadi pelaku bullying, serta aktif bersinergi dengan pihak sekolah jika ditemukan indikasi perundungan. Pengawasan terhadap lingkungan pergaulan dan penggunaan media sosial anak juga menjadi perhatian penting, mengingat bullying kini dapat terjadi di dunia digital.
“Jangan pernah menunggu sampai anak terluka untuk mulai peduli. Perlindungan terbaik dimulai dari rumah, dengan kasih sayang, perhatian, dan keberanian orang tua untuk bertindak,” pesannya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan kesadaran siswa, orang tua, dan pihak sekolah terhadap bahaya bullying semakin meningkat, serta tercipta lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.(ZS)


Komentar