Pendidikan dan Kebudayaan
Beranda » Berita » Mero Basameto: Menyemai Bait Sastra di Sekolah Toleransi SMPN 2 Labuhan Badas

Mero Basameto: Menyemai Bait Sastra di Sekolah Toleransi SMPN 2 Labuhan Badas

Oleh: Junaidi, S.Pd., M.Pd, (Kabid Pembinaan SMP Dikbud Kabupaten Sumbawa)

Sabtu pagi, 9 Mei 2026, mentari Sumbawa menyapa dengan cahaya yang terasa berbeda. Jarum jam baru menunjuk pukul 08.30 WITA ketika mobil dinas EA 26 AA perlahan meninggalkan halaman Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa. Perjalanan itu bukan sekadar kunjungan biasa. Di dalam kendaraan, kami membawa sesuatu yang lebih penting dari sekadar materi pembelajaran: sebuah ikhtiar merawat nurani bangsa melalui program bertajuk Mero Basameto.

Bersama komunitas Panre Satera yang dipimpin Doktor Suharli, kami menuju SMPN 2 Labuhan Badas. Turut dalam rombongan para pegiat sastra dan budaya seperti Mba Dina Raysa, Mba Ida, Mba Ule Ceny, serta sastrawan nasional Arahim Eltara. Hanya sekitar dua puluh menit perjalanan, namun yang kami temukan di sana terasa seperti potret kecil Indonesia yang hidup dan bernapas.

Begitu menjejak halaman sekolah, telinga kami langsung disambut denting gamelan Bali yang mengalun sakral. Di depan barisan tamu, siswi-siswi dengan jemari lentik menarikan tari Bali dengan penuh penghayatan. Di sisi lain, pagar ayu siswa-siswi berdiri rapi menyambut kedatangan kami dengan mata berbinar dan senyum yang tulus.

Hadiri Purna Siswa SMPN 2 Sumbawa, Wabup Sumbawa : “Perpisahan Sekolah Tak Perlu Mewah, yang Terpenting Maknanya

Pemandangan itu menghadirkan rasa haru yang sulit dijelaskan. Anak-anak tidak datang dengan seragam yang seragam; mereka hadir dengan identitas budaya masing-masing. Ada kain tenun Timor yang gagah, busana adat Lombok yang megah, pakaian Bali yang anggun, sentuhan adat Jawa yang sederhana namun berwibawa, hingga pakaian adat Sumbawa yang bersahaja.

Di SMPN 2 Labuhan Badas, perbedaan tidak disembunyikan. Ia justru dirayakan sebagai kekayaan bersama.

Suasana kemudian berubah menjadi hening yang magis ketika seremoni dimulai. Doktor Suharli, Ketua Panre Satera, memberikan sesuatu yang tak diduga banyak orang. Tidak ada pidato panjang. Tidak ada kalimat formal yang bertele-tele. Beliau justru melantunkan Badede.

Suara beliau mengalun lembut, menyentuh ruang-ruang sunyi di dalam hati. Badede bukan lagi sekadar nyanyian tradisional, tetapi menjelma menjadi pelukan kasih sayang yang mempersatukan seluruh hadirin. Anak-anak dari berbagai latar belakang etnis duduk diam, larut dalam lantunan yang seperti membuai jiwa mereka dengan doa-doa luhur.

Di momen itu, sekat-sekat perbedaan seakan runtuh. Yang tersisa hanyalah rasa sebagai sesama manusia.

Camat Moyo Hulu Hadiri Pelepasan 64 Siswa MTs Al-Ihsan Pelita

Memasuki sesi berbagi ilmu, suasana semakin hangat. Sastrawan nasional Arahim Eltara mengajak para siswa memahami bahwa puisi lahir dari kejujuran hati. Mba Ida mengajarkan bagaimana kenangan sederhana dapat dirangkai menjadi cerpen yang menyentuh. Mba Ule Ceny membakar semangat anak-anak melalui teknik membaca puisi, bahwa sastra sejatinya adalah cara mengetuk hati orang lain.

Sementara itu, Mba Dina Raysa mengingatkan pentingnya menjaga lisan dan jemari di media sosial. Di tengah derasnya arus digital, anak-anak diajak memahami bahwa toleransi juga harus hidup di ruang maya.

Namun puncak acara benar-benar menjadi ledakan rasa yang sulit dilupakan.

Dalam satu panggung yang sama, Tari Sumbawa tampil lincah bersambut dengan ketangkasan Presean. Hentakan Tari Timor yang penuh semangat berpadu dengan gemuruh Tari Kecak Bali. Di sisi lain, tarian dari suku Jawa bergerak gemulai, menyatu dalam harmoni yang nyaris mustahil ditemukan di banyak tempat lain.

Dan momen paling menggetarkan hadir ketika anak-anak itu mulai melantunkan puisi dalam bahasa Samawa.

Mengembalikan Hajatan Pelepasan Siswa SMP ke Pelukan dan Kasih Sayang  Orang Tua

Mereka berasal dari etnis yang berbeda. Ada yang berdarah Bali, Timor, Lombok, Jawa, dan Sumbawa. Namun ketika bait-bait puisi mengalir dari bibir mereka, semuanya terdengar menyatu dalam langgam Samawa yang fasih dan hangat. Tidak ada rasa canggung. Tidak ada batas.

Keberagaman itu melebur menjadi identitas bersama yang inklusif.

Di sekolah ini, tidak ada suku yang merasa lebih tinggi dari yang lain. Yang ada hanyalah rasa syukur karena tumbuh di tanah yang menjunjung persaudaraan.

Menjelang perpisahan, suasana berubah menjadi haru. Mba Ida, seniman senior yang sedari tadi tersenyum menyaksikan penampilan anak-anak, akhirnya tak mampu menahan air mata. Satu per satu siswa dipeluknya erat. Tangis itu bukan tangis kesedihan, melainkan tangis syukur.

Baginya, melihat anak-anak Bali, Timor, Lombok, Jawa, dan Sumbawa saling tersenyum sambil bersama-sama melantunkan puisi Samawa adalah harapan yang menjelma nyata.

Mereka tidak perlu lagi diajarkan definisi toleransi melalui buku pelajaran atau teori panjang di kelas. Mereka telah menghidupinya sendiri melalui seni, budaya, gerak tari, dan bait sastra.

Tatapan mata anak-anak itu mengingatkan kami bahwa Tana Samawa masih menjadi rahim yang subur bagi persaudaraan. SMPN 2 Labuhan Badas telah tumbuh menjadi oase di tengah dunia yang sering riuh oleh perbedaan dan perselisihan.

Anak-anak itu adalah jawaban atas doa-doa tentang masa depan.

Mereka membuktikan bahwa prinsip saling beri, saling pedi, dan saling satingi bukan sekadar semboyan, melainkan denyut kehidupan yang nyata: saling memberi, saling menyayangi, dan saling menghormati.

Kami pulang membawa keyakinan yang semakin kuat: selama bait sastra masih disemai, selama lantunan Badede masih terdengar, cahaya toleransi di Kabupaten Sumbawa tidak akan pernah padam.

Ia akan terus hidup, sehangat pelukan persaudaraan yang kami rasakan hari itu.

“Terima kasih Pak Yono, terima kasih Bapak/Ibu Guru. Kalian telah menyemai cinta, merekat keberagaman dalam balutan seni dan budaya.”(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement